Cerita Tentang Pemimpin

Kalau diantara kita tak ada yg berpengaruh, maka di antara kita tak akan ada yg didengar. Kalau di antara kita tak ada yg didengar, maka artinya tidak ada Pemimpin di antara kita. Ada yg punya jabatan (ketua, kepala, bupati, gubernur, presiden, dll) karena tak didengar maka dia bukan Pemimpin. Ada yg tak punya jabatan, tapi ada yg mendengarnya dan memiliki pengaruh. Dialah Pemimpin.
Semakin sedikit pengaruh Pemimpin resmi maka makin banyak Pemimpin tak resmi muncul.
Ini seperti hukum kekekalan energi. Energi Pemimpin ada tapi tidak berkumpul di satu tempat. Dia berubah bentuk.
Kita pun membangun pengaruh, lewat kata2 dan twitter. Kita juga adalah Pemimpin.
Nabi saw berkata “kalian adalah Pemimpin dan akan ditanya tanggungjawabnya atas amanah yg dipimpin.”
Kita sedang berlomba membangun pengaruh dan publik akan menilai siapa yg sebetulnya amanah dengan pengaruhnya?
Seperti laron di depan lampu. Lampu ter-kuat nyalanya akan didatangi laron terbanyak.
Sebaliknya, lampu terlemah nyalanya akan kehilangan peminat laron2.
Semakin banyak nyala lampu karena tak ada larangan membangun pengaruh, laron akan menyebar kemana-mana.
Para Pemimpin tak perlu khawatir dengan menyebarnya kekuasaan. Karena itulah watak demokrasi.
Dulu kekuasaan hanya 1 di tangan raja. Raja membuat, melaksanakan dan mengawasi. Lalu muncul trias politika.
Setelah trias politika (pemisahan kuasa) muncul media sebagai kekuatan ke-empat.
Sebelumnya ada pemisahan troika negara-pasar-rakyat. Jadi pasar dan rakyat bahkan lebih penting di luar negara.
Tarik menarik kuasa itu terjadi karena hukum alam mengatur kebebasan manusia mencari bentuk penataan terbaik.
Dunia berubah cepat, sekarang muncul lagi socialmedia yg bisa lebih powerful dari kekuatan ke-empat.
Jadi Pemimpin yg sadar situasinya tidak akan resah gelisah. Inilah sistem terbuka. Tapi banyak yg tdk paham.
Ada yg menyebut diri demokrat tapi setiap hari mengkhawatirkan kekuatan rakyatnya. Lalu ingin set up sistem otoriter.
Ini yg oleh @anismatta disebut imigran demokrasi. kita, harus jadi native demokrasi. Sekian.
(Source :#KulTwit @Fahrihamzah )
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==