Mbah Marijan: SETIA Atau BUNUH DIRI Membela Merapi?

Mbah Marijan bukan siapa-siapa. Tetapi, kakek berusia 83 tahun itu memperoleh perhatian khusus di antara puluhan korban Merapi yang dikuburkan kemarin. Isak tangis ribuan orang mengiringinya ke liang lahat. Publik menghormati Mbah Marijan karena dia adalah contoh paripurna tentang ketaatan pada perintah sampai mati. Mayatnya yang ditemukan dalam posisi sujud menjelaskan sebuah rasionalitas lain yang dipuja sampai akhir hayat tanpa kompromi. Namun juga banyak kalangan yang mempertanyakan kepergianya Mbah maridjan itu, saya tertarik untuk merepost ulang tulisan seorang blogger yang mengulas tentang Mbah Marijan: SETIA Atau BUNUH DIRI? setelah saya membacanya sepertinya bisa buat bahan refrensi kita dalam menilai segala sesuatu. berikut tulisanya.

Saya sangat menyayangkan keputusan mbah Marijan yang menolak untuk mengungsi hanya karena gengsi sebagai juru kunci. Padahal jabatannya sebagai ‘juru kunci gunung merapi’ bukanlah berarti harus menunggu dan menemani meletusnya gunung tersebut, melainkan hanya sebagai tuan rumah untuk mereka yang datang berkunjung ke gunung tersebut.

Sebaliknya, sebagai seorang panutan seharusnya mbah Marijan sadar bahwa banyak masyarakat yang justru menggantungkan nasib mereka di atas pundaknya, bukannya hanya peduli dengan nyawanya sendiri yang sudah siap menyambut mati. Oleh sebab itu, di saat status gunung merapi dinyatakan berbahaya, seharusnya mbah Marijan segera ‘turun gunung’ memimpin masyarakat untuk menyelamatkan diri mencari perlindungan.

Ibaratnya sebuah rumah yang kebakaran, seharusnya mbah marijan lari keluar rumah untuk menyelamatkan diri dan tetangganya, bukannya malah masuk kamar dan bersujud!

Ini bukan berani mati, melainkan bunuh diri!

“Berani mati bukan berarti berani mencari mati,

melainkan berani berjuang melawan bahaya

demi mempertahankan hidup”

Ini bukan ‘kesetiaan’ terhadap tugas seorang juru kunci, melainkan ‘kebodohan’ dalam mengambil keputusan yang memilih untuk mati.

Seandainya mbah Marijan bersedia mengungsi, bahkan lebih awal, saya rasa banyak korban yang masih bisa diselamatkan.

Mbah Marijan tewas bukan sebagai korban, melainkan sebagai pelaku BUNUH DIRI.

Semoga arwah mbah Marijan diterima oleh Tuhan Yang Maha Pengampun, Amin.


Semua ini terlepas dari pro kontra yang sedang beredar di masyarakat

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==