Bagaimana jika kesalahan itu dilakukan oleh temanmu..?

Ketika kita berbicara tentang tema ini, kita tidak sedang membicarakannya untuk orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Meminjam bahasa Aa Gym, mulaialah dengan 3 M; mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai saat ini. Sejatinya, saat kita fokus untuk memperbaiki diri, saat yang sama teman-temanmu yang lain akan melakukan hal yang sama.

Jika jelas-jelas teman kita itu telah berbuat salah dan bahkan menyakiti kita, terus apa yang harus kamu lakukan?
Pertama-tama kita harus sadar betul bahwa iman yang bersemayam di dalam dada manusia itu amat fluktuatif. Mungkin suatu saat kita saksikan penuh kebaikan, tetapi akan ada saatnya khilaf dan berbuat kesalahan. Kita sudah tau bahwa jasad kita adalah gudangnya kesalahan. Nah, demikian juga halnya dengan teman kita yang usil dan telah berbuat jahat kepada kita. Terimalah kesalahannya sebagai bagian dari perjalanan anak adam yang juga bisa luput dalam kesalahan. Siapkan hati dan berlapanglah. Tanpa harus menunggu temanmu meminta maaf, siapkan diri untuk memberi kata maaf untuknya.
Setelah kita mencoba berjiwa besar dengan memahami dan menerima orang lain berikut segala kekurangan dan kelebihannya seperti yang terurai di atas, hal berikutnya yang harus dilakukan agar hati kita jernih dalam bergaul dengan sesama manusia adalah jangan sekali-kali kita memfokuskan penglihatan terhadap kekurangan orang lain, apalagi seraya dibumbui dengan buruk sangka.
Boleh-boleh saja kita menilai kekurangan orang lain, namun semua itu harus benar-benar menjadi hikmah dan pelajaran bagi kita. Jangan dimaksudkan untuk memuaskan nafsu belaka. Lebih-lebih lagi untuk maksud-maksud rendah, seperti untuk menjatuhkan kemuliaan dan nama baik orang lain. Kita bisa banyak belajar dari kekurangan orang lain semata-mata demi untuk mengoreksi kekurangan yang ada pada diri kita sendiri.
Kalau orang yang berbuat kejelekan itu adalah sesama saudara yang seiman, maka kita harus husnuzhan (berbaik sangka), bahwa mungkin suatu saat Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya. Semoga dengan keimanannya ia bisa berubah menjadi lebih baik. Sungguh terlalu banyak bukti-bukti yang secara kasat mata terpampang di hadapan mata kita tentang orang-orang yang begitu buruk masa lalunya, tidak pernah tunduk beribadah, ahli maksiat, dan berlumur dosa, namun toh pada akhirnya berkat karunia nikmat hidayah dan taufik-Nya, ia berubah menjadi orang yang cemerlang ilmunya, begitu bercahaya nur imannya, dan lebih tinggi derajat kemuliaannya. Padahal, dulu kejahatannya justru lebih besar daripada yang pernah kita lakukan.
Kita tidak bisa menilai dan memvonis seseorang hanya karena kejelekannya yang kita lihat. Kita tidak mengetahui bagaimana amal sesungguhnya yang dimilikinya. Mungkin saja ia memiliki amal yang tulus walaupun sedekahnya hanya sedikit. Mungkin saja salatnya sangat ikhlas dan khusyuk kendatipun masih sederhana ilmunya. Kita sama sekali tidak mengetahuinya, tetapi Tuhan Mahatahu akan amal-amal setiap manusia.
Bagaimana mungkin kita memvonis seseorang hanya karena satu atau beberapa kekurangan yang kita lihat? Apa-apa yang menurut penilaian kita salah, belum tentu salah menurut Allah karena ada kalanya kita menilai kekurangan orang lain semata-mata karena dorongan hawa nafsu yang ada pada diri kita. Adakah itu disebabkan oleh kedengkian, iri, buruk sangka, ataupun berbagai penyakit hati lainnya, sehingga penilaian pun menjadi tidak objektif lagi.
Oleh sebab itu, berhentilah melihat dan mengorek-ngorek aib dan kekurangan orang lain. Tanpa kesanggupan menghentikan dan menahan diri dari kebiasaan buruk ini, kita akan kehilangan waktu untuk mencari dan menelisik aib kita sendiri. Padahal, letihnya kita memikirkan kejelekan orang lain sama sekali tidak akan mengubah apa pun, kecuali membuat hati semakin kotor dan merepotkan diri sendiri.
Betapa tidak? Biasanya pada tahap berikutnya kita pun akan tidak bisa menahan lisan ini untuk membicarakan dan memberitahukan aib tersebut kepada orang lain, sehingga jatuhlah kita kepada perbuatan tercela, dalam bahasa Islamnya, ghibah! Padahal, ghibah itu tak ubahnya dengan memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Lagi pula bukankah dosa ghibah, membicarakan keburukan orang lain, itu tidak akan terampuni sebelum dimaafkan oleh orang yang kita ghibahi?
Pantaslah kalau ada pepatah bijak berpendapat, daripada sibuk memikirkan kejelekan dan aib orang lain, lebih baik sibuk memikirkan urusan-urusan diri sendiri yang masih banyak. Begitu banyak urusan yang harus kita pecahkan, kita atur, dan kita selesaikan. Mengapa harus berletih-letih memikirkan keburukan orang lain yang notabene hanya dugaan dan prasangka kita belaka?
Kalaupun memang terpaksa karena tugas dan kedudukan yang mengharuskan kita berpikir tentang kekurangan dan aib orang lain, maka niatkanlah semua itu agar menjadi ladang amal saleh, supaya orang yang melakukan kesalahan itu bisa memperbaiki dirinya dilantarankan oleh tindakan kita terhadapnya. Akan tetapi, kalau sekadar untuk memuaskan hawa nafsu, maka lebih baik berhenti dari berpikir tentang aib orang lain karena semua itu hanya akan mengotori hati belaka. Akibat yang lebih jauh, tidak bisa tidak, akan membuat tali silaturahmi pun jangan harap akan tersambungkan dengan sesungguhnya.
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==