Cinta dan Kejujuran

Ada banyak apresiasi iman, ibadah dan cinta. Mungkin seseorang beribadah dengan pengahayatan sebagai pedagang, ia berkiblat kepada keuntungan. Ada penghayatan ibadah sebagai jalan pembebasan. Ada pengabdiaan yang semata-mata berangkat karena ingin mencintai, memberi, menikmati pengabdian yang hakiki dalam wujud ketundukan dan pengorbanan.
Suatu hari berlangsung diskusi antara empat orang tokoh: Rabi’ah Al’Adawiyah, Sufyan Attsauri, Syaqiq Al-Bilkhi dan Malik bin Dinar. Semuanya ada tokoh-tokoh besar dalam khazanah Islam. Rabi’ah meminta mereka mendefinisikan Kejujuran.


"Tak jujur pengakuan (cinta) seseorang yang tak bersabar menahan pukulan tuannya," ungkap Sufyan Attsauri.
"Tak jujur pengakuan seseorang yang tak bersyukur atas pukulan tuannya," jawab Syaqiq Albilkhi.
"Tak jujur pengakuan seseorang yang tak merasa senang dipukul tuannya," sergah Malik bin Dinar.
"Tak jujur pengakuan seseorang yang tak melupakan pukulan tuannya," jabar Rabi’ah Al’Adawiyah.


Demikianlah tingkat-tingkat kematangan manusia dalam kejujuran dan kematangan pribadi mereka. Ada orang yang begitu sabar menahan derita hidup. Ada yang begitu tahan menerima derita penyampai kebenaran. Dan ada yang begitu syukur dan bahkan menikmati derita sebagai karunia. Semuanya indah, terutama pada sang totalis yang tak menyadari derita, karena yang ada hanyalah Dia….
Luar biasa bukan. Terutama bagi mereka yang telah melewati masam-masa di mana kejujuran tidak lagi dibincangkan tapi sudah menjadi amalan harian. Ada seutas cinta bagi kamu-kamu yang mendakwa diri pengagum kebenaran. Selamat mencoba…

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==