BisaKah aKu BerFikir..? (Tafakur)

Adalah akan jauh lebih baik bila kita menemukan kebenaran dari hasil pemikiran sendiri daripada menerima suatu kebenaran dari hasil orang lain ( pepatah Barat mengatakan : (“ I hear I forget, I see I know, I do I understand “ )

menerima kebenaran dan menemukan kebenaran adalah sesuatu yang berbeda. Menerima kebenaran cukuplah dengan bertaqlid (‘mengikut’), sedangkan menemukan kebenaran hanya akan diperoleh melalui pemikiran yang mendalam ( tafakur ). Kebenaran yang ditemukan sediri, ibarat mata air yang tak pernah kering sedangkan kebenaran yang kita terima dari manusia, ibarat hujan di musim kemarau.

Sayidina Ali bin abi Thalib r.a berkata :
“Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena tokohnya; tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu akan mnegetahui siapa tokonya”

seorang ulama besar bernama hasan Al-Basyri pernah berkata : “ Tafakur itu seperti cermin yang dapat menunjukan kebaikanmu dan kejelekanmu. Dengan cermin itu pula manusia dapat melihat keangungan dan kebesaran Allah yang Maha Tinggi. Disamping itu, dengan cermin itu pula manusia dapat melihat tanda-tanda yang diberikan Allah, baik yang jelas maupun yang samar, sehingga akhirnya ia dapat berlaku lurus di dalam pengabdian kepadaNya.”

Nah dah jelas kan keutaman berfikir (bertafakur), namun pertanyaanya di kembalikan kepada diri kita sendiri, mampukah..?, bisakah..?, dan sudahkah..? aku berfikir untuk menemukan kebenaran..? dan menerima kebenaran..?


Dari Syair pun kita dapat bertafakur, sebagai contoh marilah kita renungkan dua syair berikut :





Ketika Allah berkata Tidak…!

Ya Allah ambilah kesombonganku dariku..
Tidak..! Bukan AKU yang mengambil, tetapi kau yang harus menyerahkannya !”

Ya Allah berilah aku kesabaran…
Tidak..! Kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. AKU tidak memberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri !”

Ya Allah. Berilah aku kebahagiaan…
Tidak...! Aku memberi keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri !”

Ya Allah jauhkanlah aku dari kesusahan…
Tidak…! Penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaKU !”

Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat…
Tidak …! AKU beri kau akal dan kalbu serta AL-Qur’an, supaya kau dapat menikmati kehidupan!”


Waktu, Nafas Yang Tak Kan Kembali…

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya…
Digulung hari demi hari, bulan dan tahun tanpa terasa…
Nafasku terus berjalan setia menuntunku kepintu kematian…
Sebenarnya dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang kudekati…
Satu hari berlalu berarti satu hari berkurang umurku…
Umurku yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diriku…
Karena itu, jika suatu hari berlalu tapi tiada pahala dan keyakinanku yang bertambah, apalah arti hidupku di mata Allah..

Mudah-mudahan posting yang sedikit ini bisa menjadikan kita untuk selalu berfikir (bertafakur) agar kita senantiasa mengingat KeangunganNya dan senantiasa menerima dan mendapatkan kebenaranNya.

By. Torik
Di kutip dari buku Bahan Renungan Kalbu

close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==