Detik-detik Terakhir Rasulullah SAW

Tidak pernah terdengar Nabi Muhammad SAW sakit berat. Pada tahun ke-6 H, Nabi pernah kehilangan nafsu makan karena tersiar berita bohong bahwa dia disihir seorang Yahudi. Pada tahun ke-7 H, dia berbekam karena termakan daging beracun. Dia selalu sehat karena membatasi makanan, sederhana dalam berpakaian dan cara hidup, selalu bersih dan rapi, serta selalu memelihara wudhu.

Usai melaksanakan haji wada, dia sakit. Barangkali karena kelelahan. Malam pertama, dia tidak bisa tidur. Tetapi dia keluar rumah menuju kuburan Baqi ditemani pembantunya Abu Muwayhiba untuk berdoa memohonkan ampun bagi penghuni kubur.

Kemudian dia berkata, "Wahai Muwayhiba, aku disuruh memilih antara diberikan anak kunci dunia dan kekekalan hidup di dalamnya lalu surga atau bertemu dengan Tuhan dan surga. Aku memilih yang kedua."

Keesokan harinya dia ke rumah Aisyah. Ternyata Aisyah juga sakit kepala. "Ah, Aisyah, aku juga sakit. Kau saja yang mati duluan ya! Biar aku yang mengurusmu, mengafanimu, menshalatkan dan menguburkanmu."

Aisyah jadi cemburu dan berkata, "Wahai Rasul, sepertinya kau menyuruhku pulang ke rumahku dan kau berpenganten baru dengan istri-istrimu." Demikian keduanya bercanda.

Setelah sakit agak berkurang, dia pun berkunjung ke rumah istri-istrinya yang lain. Ternyata sakitnya bertambah parah. Ketika sampai di rumah Maimunah sakitnya tidak tertahan lagi, lalu dia minta agar dirawat di rumah Aisyah.

"Tolong tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari berbagai sumur, supaya aku dapat menemui mereka dan berwasiat kepada mereka," katanya.

Kemudian dia berpakaian dan pergi ke masjid dan memberikan beberapa arahan kepada umat Islam. Sakitnya terus bertambah parah. Dia suruh Abubakar menjadi imam shalat.

Fatimah, putri tersayangnya, berkunjung. Dia berkata, "Selamat datang putriku." Lalu dia berbisik hingga Fatimah menangis. Kemudian dia berbisik lagi, dan Fatimah tersenyum.

Kelak Fatimah bercerita, "Dalam bisikan pertama, ayah mengatakan sakitnya membawa kematiannya. Sedang bisikan kedua ayahnya mengatakan orang pertama yang akan bertemu dengannya adalah Fatimah." Benar, sepeninggal Nabi SAW, Fatimah wafat.

Menjelang kematiannya, Nabi SAW hanya memiliki uang tujuh dinar. Uang itu dimintanya dibagi kepada fakir miskin di kalangan umat Islam.

Suatu kali dia memaksa shalat duduk di sebelah kanan Abubakar. Ketika itu Abubakar enggan menjadi imam. Usai shalat, Nabi SAW menghadap orang banyak dan menyampaikan taushiah. "Saudara-saudara. Api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apapun. Demi Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang dihalalkan Alquran. Aku juga tidak akan mengharamkan sesuatu, kecuali yang diharamkan Alquran. Laknat Tuhan kepada golongan yang mempergunakan perkuburan mereka sebagai masjid." Umat Islam merasa lega karena merasa baginda Rasulullah SAW membaik dan merekapun berpencar ke mana-mana.

Tapi subuh 12 Rabiul Awwal (tanggal 8 Juni 632 M), Abubakar kembali menjadi imam. Nabi SAW membuka tirai antara kamarnya dan masjid sambil tersenyum. Dia memandang jamaah. Abubakar ingin mundur, namun dia isyaratkan agar meneruskan shalat. Tirai ditutup kembali. Dia kembali berbaring. Dia usap wajah dengan tangan yang dibasahi air dari bejana yang ada di sisinya. Dia gosok dan bersihkan giginya dengan siwak yang dibawa seorang kerabat lalu berdoa, "Allahumma a’inni’ala sakratul maut, Ya Allah tolonglah aku dalam sakratul maut ini." Dia sandarkan kepalanya ke pangkuan Aisyah dan matanya menatap ke atas seraya berkata, "Bal Ar Rafiqul ‘ala minal jannah." Wahai Handai Tertinggi di dalam surga."

Mautpun menjemputnya di usia ke-63 tahun. (*)

sumber : banjarmasinpost
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==