KISAH NABI ADAM

Kisah Nabi Adam

---------------------------------------------
ditulis oleh : Ustadz Qomar Suaidi
dikirim oleh : Gilang Pacsa Ramdhana
--------------------------------------------
Perintah Allah kepada malaikat dan iblis untuk sujud
kepada Adam merupakan awal permusuhan iblis kepada
manusia. Ia menolak perintah itu sehingga dihukum
Allah. Namun iblis berjanji akan menyesatkan Adam dan
keturunannya. Salah satu bentuk tipu dayanya adalah
berhasil menggoda Adam untuk melanggar larangan Allah
sehingga Adam dikeluarkan dari surga.

Allah subhanahu wa ta'ala ingin menampakkan
penghormatan malaikat kepada kepada Nabi Adam secara
lahir dan batin. Untuk itu, Allahmj subhanahu wa
ta'ala perintahkan para malaikat untuk sujud kepada
Nabi Adam alaihisholatu was sallam:
“Sujudlah kepada Adam!” (QS. Al Baqarah:
34)

Hal ini merupakan penghormatan dan penghargaan kepada
Nabi Adam alaihishalatu was sallam dan dalam rangka
ibadah, cinta dan taat kepada Allah subhanahu
wata’ala, serta tuduk kepada perintah-Nya.
Segeralah para malaikat itu bersujud.

Namun iblis yang berada di tengah-tengah mereka yang
tentunya ikut serta mendapatkan perintah itu -iblis
itu sendiri bukan dari golongan malaikat melainkan
dari golongan jin yang diciptakan dari api-, justru
menyimpan kekafiran kepada Allah subhanahu wa ta'ala
dan kedengkian kepada Nabi Adam alaihishalatu was
sallam. Kufur dan rasa dengki itu membuat iblis enggan
sujud kepada Nabi Adam alaihishalatu was sallam. Tak
cuma menunjukkan kesombongan, iblis bahkan menyangkal
perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan mencela
kebijaksanaan-Nya. Katanya:
“Saya lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku
dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.”
(QS. Al A’raf: 12)

Maka Allah katakan:
“Wahai iblis, apa yang menghalangimu untuk sujud
kepada apa yang telah Kuciptakan dengan dua tangan-Ku?
Apakah engkau sombong ataukah engkau (merasa) termasuk
orang-orang yang lebih tinggi?” (QS. Shad:75)

Kekufuran, kesombongan, dan pembangkangan ini
merupakan sebab terusirnya dan terlaknatinya Iblis.
Allah subhanahu wa ta'ala katakan kepadanya:

“Turunlah kamu dari surga karena kamu tidak
sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka
keluarlah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang
hina.” (QS. Al A’raf: 13)

Iblis enggan tunduk dan bertobat kepada Tuhannya,
bahkan menentang, meremehkan, dan bertekad bulat untuk
memusuhi Adam alaihishalatu was sallam beserta anak
cucunya. Ia pun menyiapkan dirinya saat mengetahui
bahwa dirinya telah ditetapkan menjadi makhluk yang
sengsara selama-lamanya. Ia, dengan ucapan dan
perbuatan bersama bala tentaranya, berikrar untuk
mengajak anak cucu Adam alaihishalatu was sallam agar
menjadi golongan yang telah diputuskan untuk tinggal
di rumah kehancuran (neraka). Iblis nyatakan hal itu
dengan mengatakan kepada Allah subhanahu wa ta'ala:

“Wahai Rabbku, berilah aku waktu sampai hari
kebangkitan.” (QS. Shad: 79)

Iblis benar-benar meluangkan waktu untuk menebar
permusuhan di kalangan Adam alaihisholatu was sallam
dan anak cucunya. Maka tatkala hikmah Allah subhanahu
wa ta'ala menuntut agar manusia mempunyai tabiat dan
akhlak yang berbeda-beda, maka Allah subhanahu wa
ta'ala juga menentukan sesuatu yang menyebabkannya.
Yaitu berupa cobaan dan ujian, dan yang terbesarnya
adalah diberinya iblis kesempatan untuk mengajak anak
Adam alaihishalatu was sallam kepada semua jenis
kejahatan. Maka Allah subhanahu wa ta'ala pun
menjawab:
“Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang
diberi tangguh, sampai pada hari yang telah di
tentukan waktunya.” (QS. Shad: 80-81)

Iblis menyambut jawaban itu dengan menegaskan
permusuhan kepada Adam alaihishalatu was sallam
beserta anak cucunya dan menegaskan maksiatnya kepada
Allah subhanahu wa ta'ala, katanya:
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku
benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari
jalan-Mu yang lurus kemudian saya akan mendatangi
mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan
dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati
kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al
A’raf:16-17)

Iblis mengucapkan itu berdasarkan sangkaannya, karena
ia tahu benar tabiat anak Adam alaihishalatu was
sallam. “Dan iblis telah membuktikan kebenaran
sangkaannya terhadap mereka, lalu mereka mengikutinya
kecuali sebagian orang-orang yang beriman.” (QS.
Saba’: 20)

Allah berikan iblis kesempatan untuk melakukan perkara
yang telah menjadi niatannya pada Adam alaihishalatu
was sallam dan anak cucunya. Allah katakan:

“Pergilah, siapa yang mengikutimu dari mereka,
maka jahannamlah balasan kalian semua sebagai suatu
pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu
sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan
kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan
pasukan berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka
pada harta dan anak-anak.” (QS. Al Isra: 63-64)

Yakni jika kamu mampu, jadikanlah mereka orang-orang
yang menyeleweng dalam mendidik anak-anak mereka
dengan didikan yang rusak dan dalam membelanjakan
harta mereka kepada hal-hal yang mudharat, juga dalam
mencari harta dari yang tidak baik. Begitu pula ikut
sertalah dengan mereka jika mereka makan, minum, dan
berjima’, yakni ketika mereka tidak menyebut
nama Allah subhanahu wa ta'ala. Juga perintahkanlah
mereka untuk tidak beriman dengan hari kebangkitan dan
pembalasan dan agar mereka tidak melakukan kebajikan.
Takut-takuti mereka dengan pembantu-pembantumu,
berikan kekhawatiran pada mereka ketika berinfak yang
baik dengan kefakiran.

Kesempatan yang Allah berikan ini sesungguhnya demi
sebuah hikmah dan rahasia yang besar. Sungguh engkau
wahai musuh yang nyata tidak akan menyisakan
sedikitpun dari kemampuanmu dalam menyesatkan mereka.
Manusia yang jahat akan nampak kejahatan dan
kejelekannya, dan Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan
mempedulikannya.

Adapun keturunan Adam alaihishalatu was sallam yang
terpilih, baik dari kalangan para nabi dan
pengikutnya, baik orang-orang yang sangat jujur dalam
beriman, dan para wali-Nya, maka Allah subhanahu wa
ta'ala tidak akan menguasakan musuh ini (iblis) atas
mereka. Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan di
sekitar mereka pagar pelindung yang begitu kuat,
sebagai perlindungan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Allah subhanahu wa ta'ala membekalinya dengan senjata
yang tidak mungkin musuh bisa menandinginya, yaitu
kesempurnaan iman dan tawakal mereka kepada Rabb-nya.

“Sungguh mereka tidak memiliki kekuatan atas
orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb
mereka.” (QS. An Nahl: 99).

Juga Allah subhanahu wa ta'ala bantu mereka dalam
menghadapi musuh yang nyata itu di antaranya dengan
menurunkan kitab-kitab yang mencakup ilmu yang
bermanfaat, nasehat yang mengena yang memberi semangat
untuk melakukan kebajikan dan memperingatkan dari
kejelekan. Selain itu, Allah subhanahu wa ta'ala juga
mengutus para Rasul yang membawa kabar gembira kepada
mereka yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta'ala
dan mentaati-Nya dengan pahala.

Juga memperingatkan orang-orang kafir, yang
mendustakan dan berpaling dari Allah, dengan berbagai
macam hukuman. Allah subhanahu wa ta'ala juga menjamin
orang yang mengikuti petunjuk yang terkandung di dalam
kitab-Nya yang dibawa oleh rasul-Nya tidak sesat
semasa di dunia dan tidak sengsara kelak di akhirat,
tidak takut, serta tidak tertimpa perasaan sedih.

Demikian juga Allah subhanahu wa ta'ala bimbing mereka
melalui kitab dan para rasul-Nya kepada hal-hal yang
bisa melindungi mereka dari musuh yang nyata ini.
Allah subhanahu wa ta'ala pun menerangkan kepada
hamba-Nya, misi yang dibawa setan dan strateginya
dalam menjaring manusia ke dalam perangkapnya. Juga
Allah subhanahu wa ta'ala bimbing mereka kepada jalan
yang menyelamatkan mereka dari kejahatan setan dan
fitnahnya, dan membantu dengan bantuan yang di luar
kemampuan mereka. Karena, ketika mereka mengeluarkan
segala daya upaya dan minta bantuan kepada Allah
subhanahu wa ta'ala, akan mudah bagi mereka jalan mana
saja yang dituju.

Setelah itu Allah subhanahu wa ta'ala sempurnakan
nikmat kepada Adam alaihishalatu was sallam dengan
menciptakan istrinya Hawa dari dirinya dan jenisnya.
Ini dimaksudkan agar tercapai ketenangan dan
tujuan-tujuan lain seperti pernikahan, kebersamaan,
dan adanya anak keturunan.

Allah subhanahu wa ta'ala juga memperingatkan Adam dan
istrinya, untuk berhati-hati dari setan karena
sesungguhnya setan adalah musuh bagi mereka berdua.
Jangan sampai iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari
surga Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika itu, Allah
mempersilahkan mereka makan buah-buahan apa saja yang
ada di dalam surga dan menikmati segala kenikmatan
yang ada padanya, kecuali pohon tertentu. Allah
subhanahu wa ta'ala katakan kepada mereka berdua:
“Dan jangan kalian dekati pohon ini sehingga
kalian menjadi orang-orang yang dzalim.” (QS. Al
A’raf: 19)

“Sungguh kamu tidak akan lapar padanya dan tidak
telanjang dan sungguh engkau tidak akan dahaga
padanya, dan tidak tertimpa panas matahari.”
(QS. Thaha: 119)

Maka keduanya tinggal di surga selama dikehendaki
Allah subhanahu wa ta'ala dengan segala kenikmatannya.
Akan tetapi musuh mereka berdua terus mengintai dan
mencari kesempatan. Maka ketika setan melihat
senangnya Adam alaihishalatu was sallam di dalamnya
dan keinginannya yang besar untuk tetap tinggal di
dalamnya, setan datang dengan cara yang lembut seolah
seorang yang jujur sedang menasehati, ia katakan:
‘Wahai adam apakah engkau mau kutunjukkan sebuah
pohon yang jika kamu memakannya kamu akan kekal di
surga ini dan akan langgeng kerajaan ini serta tidak
akan rusak’. Terus menerus ia rayu Adam
alaihishalatu was sallam. Ia janjikan, ia bisikkan, ia
berikan harapan dan seolah terus memberi nasehat
padahal itu adalah penipuan yang besar. Hingga setan
pun berhasil menipu mereka berdua dan akhirnya
keduanya makan dari pohon terlarang itu. Maka ketika
makan, terlepaslah pakaian mereka berdua sehingga
terlihat auratnya, akhirnya keduanya cepat-cepat
mengambil daun-daun surga untuk menutupi badan mereka
yang telanjang sebagai pengganti pakaian mereka.
Seketika itu pula nampak hukuman Allah subhanahu wa
ta'ala atas maksiat yang mereka lakukan, lalu Allah
subhanahu wa ta'ala menyeru mereka berdua:

“Tidakkah Aku telah melarang kalian berdua makan
dari pohon ini dan Aku katakan kepada kalian berdua
sungguh setan adalah musuh yang nyata buat kalian
berdua.” (QS. Al A’raf: 22).

Kemudian Allah tumbuhkkan pada hati mereka taubat yang
sungguh-sungguh.
“Adam memperoleh beberapa kalimat dari
Robbnya.” (QS. Al Baqarah: 22).

Maka keduanya berkata: “Wahai Rabb kami, sungguh
kami telah berbuat dzalim pada diri kami, jikalau
Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami,
benar-benar kami akan menjadi orang-orang yang
merugi.” (QS. Al A’raf: 23).

Maka Allah terima taubat mereka dan Allah hapus dosa
yang telah menodai mereka. Akan tetapi keluar dari
surga jika mereka memakan dari pohon itu, sudah
menjadi keputusan yang pasti sehingga keluarlah mereka
ke bumi yang kebaikannya dicampuri dengan
keburukannya, kesenangan dicampuri dengan
kesusahannya.

Allah kabarkan kepada keduanya bahwa Allah subhanahu
wa ta'ala pasti akan memberikan cobaan pada keduanya
dan anak cucunya, serta orang-orang yang beriman. Yang
beramal shalih akan mendapatkan balasan yang baik,
sebaliknya yang mendustakan lagi berpaling, akibatnya
adalah kesengsaraan yang abadi dan adzab yang kekal.
Allah subhanahu wa ta'ala ingatkan anak cucu Adam akan
hal itu, kata-Nya:
“Wahai anak Adam jangan sekali-kali kalian dapat
ditipu oleh setan seperti telah mengeluarkan ayah ibu
kalian dari surga, ia tanggalkan pakaian keduanya
untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat.
Sesungguhnya ia dan pengikutnya melihat kamu dari
seuatu tempat yang kamu tidak dapat melihat
mereka.” (QS. Al A’raf: 27)

Allah subhanahu wa ta'ala kemudian mengganti pakaian
yang ditanggalkan oleh setan dari Adam dan Hawa dengan
pakaian yang menutupi aurat mereka dan menghiasi
mereka secara lahir. Juga dengan pakaiaan yang lebih
baik dari itu yaitu pakaian ketakwaan, yakni pakaian
hati dan rohani dengan iman, keikhlasan, taubat dan
hiasan dengan segala akhlak yang indah serta
menanggalkan segala akhlak yang hina. Lalu Allah
subhanahu wa ta'ala tebarkan dari Adam alaihishalatu
was sallam dan istrinya anak turun yang banyak
laki-laki maupun perempuan di muka bumi. Allah ganti
mereka generasi demi generasi untuk dilihat oleh-Nya
apa yang mereka lakukan.

Faedah yang dipetik:

Allah subhanahu wa ta'ala jadikan kisah itu sebagai
ibrah untuk kita yaitu bahwa sesungguhnya sombong,
dengki, dan ambisi merupakan akhlak yang berbahaya
buat seorang hamba. Kesombongan dan kedengkian iblis
membawanya kepada apa yang kita lihat, demikian juga
keinginan kuat Adam alaihishalatu was sallam dan
istrinya mengantarkan mereka memakan buah pohon itu.
Kalaulah rahmat Allah subhanahu wa ta'ala tidak segera
menyelamatkan, sungguh perbuatan mereka itu akan
menyampaikan kepada kebinasaan. Akan tetapi rahmat-Nya
segera menyempurnakan yang kurang, memperbaiki yang
rusak, menyelamatkan yang binasa dan mengangkat yang
telah jatuh.
walohua'lam bishowab..
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==